Anak autis

Pendahuluan

Autis adalah Kelainan perkembangan yang luas dan berat, dan mempengaruhi anak secara mendalam. Gangguan tersebut mencakup bidang interaksi sosial , komunikasi , dan perilaku.

Analisis Permasalahan
Seorang anak yang mengalami autis, akan mengalami tanda-tanda se¬perti tidak pernah mentap atau tersenyum ketika diajak bercanda, tidak bisa bermain dengan anak lainnya, lebih tertarik pada benda diban¬dingkan dengan manusia, tidak ada kontak mata, kesulitan ber¬komunikasi, menunjukkan amarah yang meledak-ledak disertai temper tantrum (ke¬tidak mampuan anak untuk meng¬komu¬nikasikan keinginan maupun kebutuhan), me¬lukai diri sendiri (self abuse), hiperaktivitas, dan tingkah laku motorik yang berulang-ulang. Kesulitan untuk berbicara pada anak autis perlu mendapat penanganan,anak autis di lembaga anak usia dini i perlu mendapat perlakukan yang khusus, sehingga seorang guru dalam memfasilitasi anak perlu melihat kondisi anak.
Autisme berasal dari kata “auto’ yang berarti sendiri. Penyandang autisme seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Istilah autisme baru diper¬kenalkan sejak tahun 1913 oleh Leo Kanner, sekalipun kelainan itu sudah ada sejak berabad-abad yang lampau. Au¬tisme bukan suatu gejala penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan gejala) di¬mana terjadi penyimpangan per¬kem¬bangan sosial, kemam¬puan berbahasa, dan kepedulian terhadap se¬kitar sehingga a¬nak autisme seperti hidup da¬lam dunia¬nya sen¬diri (Handojo, 2003).
Autisme adalah suatu keadaan di¬mana seseorang anak berbuat semau¬nya sen¬diri baik cara berfikir maupun berperilaku. Keadaan ini mulai terjadi sejak usia masih muda, biasanya sekitar usia 2-3 tahun. Au¬tisme bisa mengenai siapa saja, baik sosio-ekonomi mapan maupun kurang, anak-anak atau¬pun de¬wasa dan semua etnis (Faisal Ya¬tim da¬lam Kasih, 2006).
Dapat disimpulkan utisme merupakan sindroma yang sangat kompleks. Ditandai dengan ciri-ciri kurangnya kemampuan interaksi sosial dan emosional, sulit dalam komu¬ni¬kasi timbal ba¬lik, minat terbatas, dan perilaku tak wajar di¬sertai gerakan ber¬ulang tanpa tujuan (stereo¬tipic).
Gejala Anak Autis
Bila di diagnosis autisme, bia¬sanya didasari tanda-tanda se¬perti tidak pernah mentap atau tersenyum ketika diajak bercanda, tidak bisa bermain dengan anak lainnya, lebih tertarik pada benda diban¬dingkan dengan manusia, tidak ada kontak mata, kesulitan ber¬komunikasi, menunjukkan amarah yang meledak-ledak disertai temper tantrum (ke-tidakmampuan anak untuk meng¬komu¬nikasikan keinginan maupun kebutuhan), me¬lukai diri sendiri (self abuse), hiperaktivitas, dan tingkah laku motorik yang berulang-ulang (Jawa Pos, Agustus 2005). Khusus dalam gangguan kualitatif dalam bidang komu¬nikasi seperti ditunjukkan oleh minimal satu dari gejala-gejala dibawah ini:
a. Bicara terlambat atau bahkan sama sekali tak berkembang (dan tidak ada usaha untuk meng¬imbangi komu¬nikasi dengan cara lain tanpa bicara).
b. Bila bisa bicara, biasanya tidak dipakai untuk komunikasi sering menggunakan bahasa aneh dan diulang-ulang.
c. Cara bermain kurang variataif, ku¬rang imajinatif, dan kurang bisa meniru.

Ciri-ciri anak autis

Sejak lahir sampai umur 24 – 30 bulan anak-anak penyandang autis umumnya

terlihat normal. Setelah itu orang tua akan melihat adanya keterlambatan

berbicara dan keanehan dalam berinter-aksi dengan teman2nya. Suka dengan

benda2 yang berputar, tidak bisa memainkan mainan dengan benar. Sebenarnya

Autisme adalah kombinasi dari beberapa kelainan perkembangan otak. Ada

beberapa kelainan yang paling menonjol dari anak autis :

1. Komunikasi: Kemampuan berbahasa anak umumnya mengalami

keterlambatan atau sama sekali tidak bisa berbicara. Kalau pun bisa

berbicara, seringkali tidak bisa menggunakan kata-kata dengan benar

atau dengan arti yang lazim digunakan.

2. Bersosialisai (berteman): Sulit berteman, dalam arti tidak bisa melakukan

inter-aksi seperti layaknya anak-anak dengan teman sebaya. Lebih suka

sendiri.

3. Indra: Sangat sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan,

penciuman, dan rasa (lidah) mulai dari yang ringan sampai yang berat.

4. Bermain: Tidak spontan/reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam

bermain.

5. Perilaku: Ada yang sangat pasif (pendiam) tapi ada juga yang sangat aktif

(hyperaktif). Kadang2 marah tanpa alasan yang masuk akal (tantrum).

Sangat menaruh perhatian pada satu benda yang disukai (obsesi). Dapat

sangat agresif pada orang lain atau dirinya sendiri. Sangat suka rutinitas

dan akan sulit untuk merubah kegiatan rutin anak-anak autis.

Gejala – gejala pada autisme mencakup ganggguan pada :
1. gangguan pada bidang komunikasi verbal dan non verbal

• Terlambat bicara atau tidak dapat berbicara
• Mengeluarkan kata – kata yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain yang sering disebut sebagai bahasa planet
• Tidak mengerti dan tidak menggunakan kata – kata dalam konteks yang sesuai
• Bicara tidak digunakan untuk komunikasi
• Meniru atau membeo , beberapa anak sangat pandai menirukan nyanyian , nada , maupun kata – katanya tanpa mengerti artinya
• Kadang bicara monoton seperti robot
• Mimik muka datar
• Seperti anak tuli, tetapi bila mendengar suara yang disukainya akan bereaksi dengan cepat

2. gangguan pada bidang interaksi sosial

• Menolak atau menghindar untuk bertatap muka
• anak mengalami ketulian
• Merasa tidak senang dan menolak bila dipeluk
• Tidak ada usaha untuk melakukan interaksi dengan orang
• Bila menginginkan sesuatu ia akan menarik tangan orang yang terdekat dan mengharapkan orang tersebut melakukan sesuatu untuknya.
• Bila didekati untuk bermain justru menjauh
• Tidak berbagi kesenangan dengan orang lain
• Kadang mereka masih mendekati orang lain untuk makan atau duduk di pangkuan sebentar, kemudian berdiri tanpa memperlihatkan mimik apapun
• Keengganan untuk berinteraksi lebih nyata pada anak sebaya dibandingkan terhadap orang tuanya

3. gangguan pada bidang perilaku dan bermain

• Seperti tidak mengerti cara bermain, bermain sangat monoton dan melakukan gerakan yang sama berulang – ulang sampai berjam – jam
• Bila sudah senang satu mainan tidak mau mainan yang lain dan cara bermainnya juga aneh
• Keterpakuan pada roda (dapat memegang roda mobil – mobilan terus menerus untuk waktu lama)atau sesuatu yang berputar
• Terdapat kelekatan dengan benda – benda tertentu, seperti sepotong tali, kartu, kertas, gambar yang terus dipegang dan dibawa kemana- mana
• Sering memperhatikan jari – jarinya sendiri, kipas angin yang berputar, air yang bergerak
• Perilaku ritualistik sering terjadi
• Anak dapat terlihat hiperaktif sekali, misal; tidak dapat diam, lari kesana sini, melompat – lompat, berputar – putar, memukul benda berulang – ulang
• Dapat juga anak terlalu diam

4.gangguan pada bidang perasaan dan emosi

• Tidak ada atau kurangnya rasa empati, misal melihat anak menangis tidak merasa kasihan, bahkan merasa terganggu, sehingga anak yang sedang menangis akan di datangi dan dipukulnya
• Tertawa – tawa sendiri , menangis atau marah – marah tanpa sebab yang nyata
• Sering mengamuk tidak terkendali ( temper tantrum) , terutama bila tidak mendapatkan apa yang diingginkan, bahkan dapat menjadi agresif dan dekstruktif

5. gangguan dalam persepsi sensoris

• Mencium – cium , menggigit, atau menjilat mainan atau benda apa saja
• Bila mendengar suara keras langsung menutup mata
• Tidak menyukai rabaan dan pelukan . bila digendong cenderung merosot untuk melepaskan diri dari pelukan
• Merasa tidak nyaman bila memakai pakaian dengan bahan tertentu

Pemecahan Masalah
1. Penanganan
Penanganan yang dapat dilakukan sebagai berikut:
Mengoptimalkan Peran orang tua dalam penyem¬buhan anak penderita autisme sangatlah pen¬ting. Se¬lain harus melakukan peng¬obatan secara me¬dis, orang tua juga di¬tun¬tut bijak dan sabar me¬ng¬hadapi kon¬disi anak. Sebagian besar karena orang tua tidak bijak dan sabar meng¬hadapi kondisi anak. Sebagian besar karena orang tua tidak paham dengan pe¬nya¬kit anaknya. Mereka hanya meng¬andalkan terapi tanpa berusaha mencari tahu berbagai hal yang baik dan yang buruk selama proses penyembuhan dalam.
Selain itu sangat perlu dipahami oleh para orang tua bahwa terapi harus dimulai sedini mung¬kin sebelum usia 5 tahun. Perkem¬bangan paling pesat dari otak ma¬nusia terjadi pada usia 2-3 tahun. Oleh ka¬rena itu penata laksanaan terapi setelah usia 5 tahun hasilnya berjalan lebih lambat.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menanganani anak autis dengan menggunakan terapi. Jenis terapi yang digunakan antara lain: Terapi Perilaku, Terapi Okupasi/menguatkan otot, Terapi Wicara, Sosialisasi dengan menghilang¬kan perilaku tak wajar, – Terapi Biomedik (obat, vitamin, mineral, food supplemen, Sosialisasi ke sekolah regular, – Sekolah Khusus.

2. Penggunakan Speech Therapy Dengan Metode ABA (Applied Beha-viour Analysis) untuk anak autis.
Penerapan speech therapy dengan metode ABA (Applied Beha¬viour Analysis) untuk anak autis dilakukan sebagai berikut:
Dalam penerapannya, metode ABA (Applied Behavior Analysis) ini
menggunakan konsep A (Antecedent), B (Behavior), dan C (Consequence). Artinya penerapan metode ABA (Applied Behavior Analysis) ini harus ada
instruksi, respon yang muncul setelah adanya instruksi dan konsekuensi yang
didapatkan anak setelah merespon instruksi. Pada lembaga pendidikan anak usia dini khususnya di Taman Kanak-kanak dapat dilakukan dengan menggunakan permainan kata. Langkah-langkah yang dapat dilakukan:
1. Guru menyediakan kartu gambar dan kata.
2. Guru mengajak anak untuk mengucapkan kata dengan meniru ucapkan guru, sehingga dengan begitu anak akan berusaha mengucapkan kata-kata dari guru setelah guru mengucapkan, seperti itu lama kelamaan di harapkan anak dapat berbicara lebih baik.

Sumber:

http://indahnya-keceriaan.blogspot.com/2009/10/penanganan-gangguan-w-icara-anak-autis.html

– Dr. Suriviana- http://www.infoibu.com http://www.infoibu.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=67

http://www.putrakembara.org

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: