Gangguan Bicara Pada Si Kecil

Gangguan Bicara Pada Si Kecil
Memasuki usia prasekolah, biasanya kosakata yang dikuasai si kecil sudah banyak meskipun kadang lafal katanya belum jelas. Selain, sudah lancar berbicara karena umumnya lebih dari 1000 kosakata sudah ia kuasai, usia prasekolah biasanya sudah bisa mengenali sopan santun dalam berbicara. Artinya, ia sudah bisa membedakan bagaimana cara berbicara dengan teman atau orang tua. Namun bagaimana jika yang terjadi justru sebaliknya?

Kapan harus waspada?

Kemampuan bicara anak memang tidak bisa digeneralisir berdasarkan usia atau jenis kelamin. Paling penting adalah orang tua harus cepat tanggap tatkala anaknya menunjukkan tanda-tanda keterlambatan dalam perkembangan kemampuan bicara. Jadi, waspadai apabila saat memasuki usia di atas empat tahun, si kecil Anda baru bisa mengucapkan sepatah dua patah kata dengan tata bahasa yang belum benar. Padahal seharusnya pada usia ini si kecil cerewet dan banyak omong.

Faktor penyebab

Ada banyak penyebab faktor keterlambatan bicara pada anak. Diantaranya adalah:

  1. Si kecil mengalami gangguan dengan pendengarannya. Anak dengan gangguan pendengaran biasanya ia tidak akan memberi respons terhadap bunyi-bunyian yang ada di sekitarnya. Gangguan pendengaran bisa menyebabkan anak mengalami hambatan pula dalam memahami, meniru dan menggunakan bahasa. Sebaiknya bawa segera anak ke dokter spesialis THT siapa tahu ada infeksi dengan telinganya.
  2. Mengalami gangguan pada otot bicara. Ciri yang paling utama pada penderi gangguan otot bicara adalah lafal bicara si kecil tak kunjung sempurna. Kadang otaknya sudah memerintahkan untuk menjawab dengan benar, tapi yang keluar dari mulut tetap tidak jelas karena adanya gangguan neurologis atau persarafan.
  3. Si kecil Anda memiliki keterbatasan kemampuan kognitif. Yaitu kemampuan merepresentasikan objek yang dilihat dalam bentuk image. Bila kemampuan kognitif terganggu, maka image tersebut tidak akan terbentuk. Konsi ini biasanya bisa dideteksi sendiri oleh orang tua dengan melihat kemampuan motorik anak. Misalnya, anak yang mengalami gangguan bicara biasanya juga kurang mampu melakukan aktivitas lain yang sederhan sekalipun seperti memakai sepatu atau mengancingkan baju.
  4. Si kecil mengalami gangguan pervasif. Biasanya terjadi pada anak yang mengalami ADD (attention defisit disorder). Anak yang mengalami keterbatasan atensi ini mengalami masalah di pusat sarafnya. Gangguan ini biasanya tidak berdiri tunggal, tapi dibarengi ciri-ciri lain, semisal pekerjaannya tidak pernah tuntas, sulit/tidak bisa konsentrasi dan sebagainya. Namun untuk memastikannya, tak ada cara lain kecuali mendatangi ahli.
  5. Kurangnya komunikasi serta interaksi dengan orangtua atau lingkungan sekitarnya. Banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa cara mereka berkomunikasi dengan si anak lah yang juga membuat anak tidak punya banyak perbendaharaan kata-kata, kurang dipacu untuk berpikir logis, membuat analisa atau kesimpulan dari kalimat-kalimat yang sangat sederhana sekali pun.
Solusi

Agar si kecil Anda tidak mengalami keterlambatan bicara ada beberapa stimulus yang bisa dilakukan oleh orangtua. Seperti:

  • Ajak si kecil berbicara dan berkomunikasi. Patut diingat bahwa berbicara pada anak tidak sama artinya dengan memberi perintah ataupun melarang ini-itu dengan menggunakan kalimat pendek yang sifatnya satu arah.
  • Biasakan melontarkan kalimat terbuka yang tidak hanya bisa dijawab dengan kata “ya”, “tidak”, “belum” dan “sudah”. Misalnya, “Adik hari ini makan apa?” dan jangan melontarkan pertanyaan seperti ini, “Adik sudah makan?”
  • Mendongenglah. Cara ini terbukti bermanfaat untuk menambah perbendaharaan kata anak. Melalui dongeng anak bisa mengenal kata gunung, danau, hutan dan perahu yang kadang jarang ditemui pada percakapan sehari-hari.
  • Jangan biarkan anak terlalu banyak menonton televisi. Televisi tidak dapat membrikan stimulus apa-apa terhadap perkembangan anak-anak dan hanya membuat anak menjadi pendengar pasif. Pada saat nonton televisi, anak akan lebih sebagai pihak yang menerima tanpa harus mencerna dan memproses informasi yang masuk.
  • Orang tua harus terus mengajak anak bicara dengan bahasa yang benar dan jangan menirukan pelafalan kata yang tidak tepat.
Usia Perkembangan Kemampuan

  • Usia lahir hingga 3 bulan – Menangis.
  • Usia 3-6 bulan, si kecil mengeluarkan bunyi tanpa arti sama sekali (cooing).
  • 6-8 bulan, si kecil mulai mengucapkan kata seperti “mamamam” atau “tatatata” (bubbling) .
  • Usia 12 bulan, si kecil mulai bisa mengucapkan kata pertamanya, seperti “mama” atau “papa”.
  • Usia 18 bulan, si kecil sudah bisa mengucapkan satu kata meskipun tanpa tata bahasa. Misalnya: “makan”, “minum”, dan sebagainya.
  • Usia 2 tahun, si kecil sudah bisa merangkai beberapa kata menjadi kalimat sederhana. Misalnya, “Adik makan.”
  • Usia 3-4 tahun, si kecil sudah menguasai lebih dari 1.000 kosa kata dan kemampuan tata bahasanya mulai meningkat pesat. Misalnya, anak sudah bisa mengatakan, “Aku mau makan pipis.”
  • Usia 4-6 tahun, si kecil mulai mengenali sopan santun dalam bicara.

Sumber :

http://www.conectique.com/tips_solution/parenting/growth/article.php?article_id=4979

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: